Kemarin aku berbohong kepadamu..memberikan jawaban palsu..atau mungkin karena jiwaku sebenarnya berada dalam wilayah abu-abu? atau aku lebih terpekur kepada maknanya?
"Aku mau nanya, apa kamu seperti dia? Karena kamu kan sahabatnya..apa kamu terpengaruh?"
Aku menjawab " Tidak."
Karena bagiku dia tidak mempengaruhi pola renungku. Aku sudah memiliki pola yang ku titi tersebut sebelum mengenal sahabatku itu. Pola yang ku diskusikan lama dan menyenangkan dengan dua sahabatku. Diskusi yang bagi sebagian orang "tabu". Seputaran Agama yang tentu saja menyangkut Nabi, ajarannya, sahabatnya dan laen laen.
Meski aku tahu, aku dan sahabat baruku itu memiliki habit yang terlihat sama. Dia tak pernah mengerjakan shalat, entah apa alasannya. Tapi aku pernah membicarakan hal ini kepadanya. Tapi jawabannya berbeda. "Ini urusan privasi, terserah aku mau sholat atau tidak"..aku cuman mengangguk-angguk karena bukan maksudku untuk menghakiminya.
Karena aku juga tidak menjalankannya--waktu itu--.
Saat itu aku mengalami sebuah fase. fase kebosanan. Setelah beberapa tahun hidup dalam gerakan yang begitu keras terhadap ajaran-ajarannya menjadikan aku robot. Apapun ku lakukan seperti sebuah mesin patuh yang mengiyakan dan menelan bulad bulad pertanyaanku.
Dan Shalat menjadi sebuah kewajiban yang "menyiksaku" tanpa ada pemaknaan dalam dan mendustai Tuhanku. Sholat menjadi sebuah benteng pertahanan untuk selamat tanpa memaknainya sebagai upaya untuk meraih dan menyapa jiwaku.
Dan aku Muak.
aku Muak menjadi Robot, aku rindu menjadi manusia.
aku tahu bahwa shalat adalah cara untuk menyapa dan memanjakan jiwaku. Namun aku tak mau embel-embel masa lalu menggelantungiku. Karena akibatnya bisa fatal, aku akan selalu terjebal menjadi robot kembali. Dan aku tak mau.
Maka mulai lah aku melalui caraku sendiri, berdoa, memaknai kehidupan dan berhubungan dengannya melalui doaku. Harapku. Aku masih shalat, tapi berlubang tiada tara. Dan entah mengapa aku menjadi lebih lega.
Hingga pada suatu titik, aku kembali. Menjadi manusia lagi. Dan ku lakukan lagi gerakan itu, dengan penuh makna. Penuh cinta. Bukan urutan daftar "image" alim yang ku kejar, seperti saat aku harus mengisi lembaran-lembaran Muthaba'ah yang menggelikan. Tapi kebutuhan yang sangat untuk menyapa Jiwaku..mengucap syukur. Meski kebiasaan lamaku ta berubah, menangkupkan tangan dan menutup mata serta mengucap syukur atas berkah yang diberikan Semesta padaku.
Dengan begini, apakah aku berbohong padamu?
Tidak, tapi bila ku berikan jawaban seadanya dirimu mungkin tak akan mengerti.
Karena aku pun tak mengerti, mengapa kau tanyakan itu padaku? Apakah kau ingin memastikan Ibu macam apa nanti yang akan mengasuh anak-anakmu?
Pfiuhhhh..kadang aku ta paham. Cara kita memaknai tentang hidup ini berbeda. Kamu sangat fatalis. Sementara aku tak pernah puas dengan semua jawaban-jawaban itu. Maka, ku berikan novel novel spiritualis, filosofis padamu. Dengan harap sedikidlah masuk ke duniaku. Dan kau akan semakin memahamiku. Karena semua yang berasal dari "langit" berasal dari "bumi". Tak bisa tidak. Kalau "langit" ngotot menurunkan apa yang tidak berasal dari "bumi" maka "langit" akan hancur tanpa ada yang mau memunguti puing-puingnya.
Minggu, 08 November 2009
after a very long time
Dah lama nggak blogging lagi. Sudah empat tahun berlalu. Dulu dengan penuh semangad menulis apapun di salah satu situs blog tetangga. Dan seketika semangad itu membuyar karena suatu alasan...
And Finally, aku memulai lagi menulis di media internet ini. Udah basi kali ye mulai ngeblogging lagi, udah bejibun Bloggers di Indonesia..wakakakakaka..But emang ngeblogging ada basinya? Toh kita belajar setiap hari dan menulis adalah kebutuhan.
Karena ada banyak hal yang berkerumun ramai di tubuhku tapi tidak bisa ku ungkap semuanya...Dan dirimulah kini yang menjadi "korban" gerutuan yang mulai mengamuk keluar dari jiwaku.
And Finally, aku memulai lagi menulis di media internet ini. Udah basi kali ye mulai ngeblogging lagi, udah bejibun Bloggers di Indonesia..wakakakakaka..But emang ngeblogging ada basinya? Toh kita belajar setiap hari dan menulis adalah kebutuhan.
Karena ada banyak hal yang berkerumun ramai di tubuhku tapi tidak bisa ku ungkap semuanya...Dan dirimulah kini yang menjadi "korban" gerutuan yang mulai mengamuk keluar dari jiwaku.
Langganan:
Postingan (Atom)